AYOMAKASSAR.com– Dinamika internal Partai Golkar Sulawesi Selatan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulsel semakin memanas.
Di tengah menguatnya dukungan kepada Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin atau Appi, sejumlah anggota DPRD Makassar dari Fraksi Partai Golkar justru disebut-sebut tidak menunjukkan loyalitas penuh terhadap kepemimpinan Appi.
Di DPRD Makassar, ada enam anggota Fraksi Golkar, yakni Arifin Madjid, Apiaty Amin Syam , Muhammad Yulianto Badwi, Ismail, Andi Suharmika, Eshin Usami Nur Rahman.
Isu ini mencuat seiring konsolidasi politik yang terus dilakukan Appi untuk memperkuat posisinya sebagai kandidat kuat Ketua Golkar Sulsel.
Sebagai Ketua DPD II Golkar Makassar sekaligus Wali Kota Makassar, Appi dinilai memiliki legitimasi kuat untuk naik memimpin Golkar tingkat provinsi.
Sejumlah sumber internal partai menyebutkan, soliditas Fraksi Golkar DPRD Makassar menjadi perhatian serius. Beberapa legislator disebut belum sepenuhnya sejalan dengan arah politik yang dibangun Appi, terutama menjelang penentuan dukungan pada Musda Golkar Sulsel.
Situasi tersebut dinilai kontras dengan dukungan mayoritas DPD II kabupaten/kota di Sulsel yang justru semakin mengerucut kepada Appi. Berdasarkan berbagai laporan politik internal, hingga awal 2026, Appi disebut telah mengantongi dukungan tertulis dari sekitar 20 DPD II Golkar kabupaten/kota dari total 24 daerah di Sulsel.
Pengamat politik menilai dukungan mayoritas DPD II menjadi indikator kuat bahwa posisi Appi di internal Golkar Sulsel sangat sulit digoyang.
Direktur Nurani Strategic Consulting, Nurmal Idrus, bahkan menyebut derasnya dukungan itu sebagai sinyal legitimasi struktural yang kuat.
“Bertambahnya dukungan dari mayoritas DPD II ini semakin mempertegas posisi Munafri Arifuddin sebagai figur paling kuat dan paling siap dalam kontestasi Musda Golkar Sulsel,” ujarnya sebagaimana dikutip media.
Namun, dinamika berbeda justru terlihat di internal Golkar Makassar sendiri. Beberapa kader senior dan anggota legislatif dinilai masih memainkan manuver politik yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kepemimpinan Appi.
Sikap ini memunculkan persepsi adanya “matahari kembar” di tubuh Golkar Makassar, di mana sebagian kader masih membangun komunikasi politik di luar garis komando ketua DPD II. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu konsolidasi menjelang Musda.
Sebelumnya, Appi juga pernah melakukan perombakan struktur kepengurusan partai sebagai bentuk penegasan disiplin organisasi. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas dan soliditas partai agar seluruh kader tetap fokus pada agenda politik organisasi.
Langkah serupa juga pernah terlihat saat Appi mencopot Abdul Wahab Tahir dari posisi Sekretaris DPD II Golkar Makassar. Pergantian itu disebut sebagai bagian dari penataan organisasi dan evaluasi terhadap kader yang dinilai tidak lagi aktif dalam dinamika partai.
Pengamat menilai, dalam politik Golkar, loyalitas struktural menjadi faktor penting. Dukungan formal saja tidak cukup jika tidak diikuti konsistensi kader dalam menjaga soliditas organisasi.
Apalagi, Musda Golkar Sulsel kali ini bukan sekadar pemilihan ketua, tetapi juga menjadi pertaruhan arah kekuatan politik Golkar menghadapi agenda besar Pemilu 2029.
Dengan posisi Appi yang semakin kuat di level DPD II se-Sulsel, perhatian kini tertuju pada bagaimana ia merapikan barisan di kandang sendiri, khususnya Fraksi Golkar DPRD Makassar. Sebab, kemenangan politik di tingkat provinsi sering kali justru ditentukan dari soliditas internal di rumah sendiri.
Jika persoalan loyalitas ini tidak segera diselesaikan, bukan tidak mungkin akan menjadi celah yang dimanfaatkan rival politik menjelang Musda Golkar Sulsel yang diprediksi berlangsung panas dan penuh manuver. (***)







