Loyalitas Arifin Majid ke Appi Dipertanyakan, Disebut Condong ke IAS

AYOMAKASSAR.com– Peta politik internal Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) menjelang Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulsel kian dinamis.

Di tengah menguatnya dukungan kepada Ketua DPD II Golkar Makassar Munafri Arifuddin atau Appi, nama anggota Fraksi Golkar DPRD Makassar, Arifin Majid, ikut menjadi sorotan.

Arifin disebut-sebut sebagai salah satu kader yang dinilai tidak sepenuhnya loyal terhadap kepemimpinan Appi di Golkar Makassar. Bahkan, dalam berbagai perbincangan politik internal partai, ia disebut lebih condong memberikan dukungan politik kepada mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), yang juga santer disebut masuk dalam pusaran perebutan pengaruh menjelang Musda Golkar Sulsel.

Isu tersebut mencuat seiring intensnya konsolidasi yang dilakukan Appi sebagai kandidat kuat Ketua Golkar Sulsel. Sebagai Ketua DPD II Golkar Makassar sekaligus Wali Kota Makassar, Appi dinilai memiliki posisi strategis dan legitimasi kuat untuk memimpin Golkar Sulsel ke depan.

Dukungan terhadap Appi pun terus mengalir dari berbagai DPD II kabupaten/kota. Berdasarkan sejumlah laporan politik internal, hingga awal 2026, Appi disebut telah mengantongi dukungan mayoritas DPD II Golkar se-Sulsel, bahkan mencapai sekitar 20 daerah dari total 24 kabupaten/kota.

Kondisi itu membuat posisi Appi dianggap sangat kuat secara struktural. Namun, dinamika berbeda justru muncul di internal Golkar Makassar sendiri, terutama dari sejumlah kader yang dinilai belum sepenuhnya berada dalam garis komando ketua DPD II.

Nama Arifin Majid menjadi salah satu yang paling sering diperbincangkan. Sebagai legislator senior di DPRD Makassar, langkah politiknya dinilai cukup berpengaruh dalam membaca arah dukungan kader di tingkat kota.

Beberapa sumber internal partai menyebut, kedekatan komunikasi Arifin dengan lingkaran politik IAS menjadi alasan munculnya persepsi bahwa ia tidak sepenuhnya berada dalam barisan Appi.

IAS sendiri merupakan figur senior Golkar Sulsel yang masih memiliki jejaring politik kuat, khususnya di Makassar. Meski belum secara terbuka menyatakan langkah politiknya terkait Musda Golkar Sulsel, nama IAS tetap menjadi magnet dalam dinamika internal partai berlambang pohon beringin tersebut.

Sejumlah kader menilai, dalam momentum menjelang Musda, loyalitas terhadap kepemimpinan partai menjadi hal penting. Sikap kader yang dianggap bermain dua kaki dinilai berpotensi mengganggu konsolidasi organisasi.

“Kalau mau partai solid, semua kader harus satu komando. Tidak boleh ada manuver yang justru melemahkan posisi ketua sendiri,” ujar salah satu sumber internal Golkar Makassar yang enggan disebutkan namanya.

Sebelumnya, Appi juga dikenal cukup tegas dalam menata organisasi partai. Ia pernah melakukan perombakan struktur kepengurusan DPD II Golkar Makassar sebagai bentuk penegasan disiplin organisasi, termasuk mengganti sejumlah kader yang dinilai tidak lagi aktif atau tidak sejalan dengan arah perjuangan partai.

Langkah tersebut dipandang sebagai upaya menjaga soliditas menjelang agenda-agenda politik besar, termasuk Pilkada dan Pemilu 2029.

Pengamat politik, Muhammad Fauzi menilai, pertarungan menuju kursi Ketua Golkar Sulsel bukan hanya soal dukungan formal dari DPD II, tetapi juga kemampuan kandidat menjaga loyalitas kader di basis politiknya sendiri.

“Karena itu, sorotan terhadap sikap politik Arifin Majid dan sejumlah legislator Golkar Makassar lainnya dinilai menjadi bagian penting dalam membaca peta kekuatan menjelang Musda,” ujar Fauzi.

Jika benar ada kader yang lebih condong ke IAS ketimbang mendukung Appi sebagai ketua DPD II, maka hal itu bisa menjadi sinyal adanya friksi internal yang perlu segera diselesaikan agar Golkar Makassar tidak terjebak dalam konflik kepentingan berkepanjangan. (***)